Celine Olivia Bawa Baki Merah Putih pada HUT RI ke 81 di Istana

Berita223 views

Celine Olivia Apriani Theo mendapat kepercayaan sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih dalam Upacara Peringatan Detik Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026. Siswi SMK Negeri 5 Pontianak tersebut menjadi bagian dari Tim Paskibraka Indonesia Berdaulat.

Celine mewakili Provinsi Kalimantan Barat bersama Mirza Rafi Navazani. Dalam upacara pagi, ia menerima Bendera Merah Putih dari Presiden Prabowo Subianto selaku Inspektur Upacara, kemudian membawanya menuju barisan pengibar.

Tugas pembawa baki menjadi salah satu posisi yang paling banyak mendapat perhatian dalam formasi Paskibraka. Petugas harus menaiki dan menuruni tangga, menerima bendera, menjaga posisi baki, serta menyelaraskan langkah dengan seluruh anggota pasukan.

Pada upacara penurunan bendera sore hari, tugas pembawa baki dipercayakan kepada Neeltje Deliana Insjowi Werimon dari Provinsi Papua. Siswi SMA Negeri 8 Jayapura tersebut tergabung dalam Tim Paskibraka Indonesia Adil Makmur.

Celine Olivia Apriani Theo Mewakili Kalimantan Barat

Celine Olivia Apriani Theo merupakan pelajar SMK Negeri 5 Pontianak. Ia terpilih menjadi salah satu dari 76 anggota Paskibraka Tingkat Pusat 2026 yang berasal dari 38 provinsi.

Kalimantan Barat mengirimkan satu perwakilan putra dan satu putri. Celine menjadi perwakilan putri, sedangkan Mirza Rafi Navazani menjadi perwakilan putra.

Keterpilihan sebagai Paskibraka nasional menempatkan Celine dalam barisan pelajar pilihan dari seluruh Indonesia. Ia harus melewati seleksi berjenjang sebelum masuk ke tahap pemusatan pendidikan dan pelatihan.

Perjalanan tersebut tidak hanya menguji kemampuan baris berbaris. Calon juga dinilai melalui kesehatan, kebugaran, postur, pengetahuan, kedisiplinan, kemampuan bekerja dalam tim, serta kesiapan mental.

Ketika dipercaya sebagai pembawa baki, Celine membawa nama keluarga, sekolah, Kota Pontianak, dan Provinsi Kalimantan Barat. Tugas tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan pendidikannya.

Siswi SMK Negeri 5 Pontianak dengan Prestasi Seni

Celine bukan hanya dikenal melalui kegiatan Paskibraka. Ia juga mempunyai pengalaman dalam bidang seni dan pernah meraih prestasi pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan seni dan kedisiplinan Paskibraka dapat berjalan bersamaan. Keduanya membutuhkan latihan, kepercayaan diri, kemampuan tampil, serta ketenangan menghadapi penilaian.

Siswa yang mempunyai pengalaman tampil biasanya lebih terbiasa mengendalikan rasa gugup. Namun, tampil pada upacara kenegaraan tetap membawa tekanan yang berbeda karena setiap gerakan disaksikan masyarakat secara nasional.

SMK Negeri 5 Pontianak memberikan apresiasi atas keberhasilan Celine. Sekolah menilai pencapaiannya sebagai hasil dari ketekunan dan kerja keras yang dilakukan selama proses seleksi.

Keberhasilan seorang siswa pada tingkat nasional juga dapat memberikan dorongan kepada pelajar lain. Kegiatan sekolah tidak hanya menjadi ruang memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga tempat mengembangkan kepemimpinan, seni, olahraga, dan kedisiplinan.

Posisi Pembawa Baki Baru Dipastikan Menjelang Upacara

Nama pembawa baki tidak langsung diumumkan ketika 76 anggota Paskibraka dikukuhkan. Penentuan posisi dilakukan mendekati hari pelaksanaan dengan mempertimbangkan kesiapan setiap anggota.

Kebijakan tersebut bertujuan menjaga agar para anggota tidak terbebani terlalu awal. Selama latihan, mereka perlu siap ditempatkan pada berbagai posisi sesuai kebutuhan tim.

Pengamatan dilakukan terhadap kondisi fisik, kesehatan, ketepatan langkah, kestabilan gerakan, konsentrasi, dan kesiapan mental. Penampilan pada latihan menjadi salah satu bahan penentuan petugas utama serta cadangan.

Celine akhirnya dipilih sebagai pembawa baki pada upacara pagi. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa ia dinilai siap menjalankan rangkaian gerakan yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Penentuan mendekati pelaksanaan juga membuat setiap anggota harus terus menjaga kondisi. Tidak ada posisi yang dapat dianggap pasti hanya berdasarkan susunan saat latihan.

Menurut penulis, sistem ini membuat seluruh anggota Paskibraka tetap berlatih dengan kesungguhan yang sama karena setiap posisi membawa kehormatan dan tanggung jawab tersendiri.

Pengukuhan Dilakukan Sebelum Hari Kemerdekaan

Sebanyak 76 anggota Paskibraka Tingkat Pusat 2026 dikukuhkan di Istana Negara pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Wakil Presiden Gibran Rakabuming bertindak sebagai pembina upacara pengukuhan.

Pengukuhan menjadi tanda bahwa seluruh anggota telah siap menjalankan tugas negara. Sebelum mencapai tahap tersebut, mereka menjalani pendidikan serta latihan secara intensif.

Lencana Merah Putih Garuda dan kendit menjadi bagian dari prosesi pengukuhan. Penyematan dilakukan secara simbolis kepada pemimpin upacara.

Setelah pengukuhan, para anggota memasuki tahap akhir persiapan. Gladi dan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan formasi, seragam, langkah, serta perlengkapan berada dalam keadaan siap.

Masa menjelang 17 Agustus juga digunakan untuk menjaga kesehatan. Kelelahan, cedera, atau gangguan kesehatan dapat memengaruhi susunan petugas sehingga tim cadangan tetap dipersiapkan.

Tim Indonesia Berdaulat Bertugas pada Upacara Pagi

Tim Paskibraka yang mengibarkan Bendera Merah Putih pada HUT RI ke 81 diberi nama Indonesia Berdaulat. Nama tersebut mengambil salah satu unsur tema resmi “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Celine berada dalam tim ini sebagai pembawa baki. Formasi juga melibatkan anggota Kelompok Delapan, Kelompok Tujuh Belas, dan Kelompok Empat Puluh Lima.

Angka tersebut berkaitan dengan tanggal, bulan, dan tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Susunan 17, 8, dan 45 menjadi ciri yang melekat pada Paskibraka.

Komandan Kelompok Delapan dipercayakan kepada Achmad Fachri Mubarok dari Provinsi Jambi. Ia merupakan pelajar SMK Negeri 1 Kota Jambi.

Tugas pengerek bendera dipegang I Nyoman Harya Dhanurendra Darmamukti dari Kalimantan Selatan. Setiap petugas bergerak mengikuti susunan yang telah dilatih berulang kali.

Komandan Upacara pagi adalah Kolonel Inf Priyo Handoyo. Seluruh pergerakan Paskibraka berada dalam rangkaian upacara yang dipimpinnya.

Celine Menerima Bendera dari Presiden Prabowo

Salah satu tahapan penting terjadi ketika Celine berjalan menuju mimbar kehormatan. Ia membawa baki dalam posisi seimbang sambil mempertahankan sikap tubuh serta kecepatan langkah.

Presiden Prabowo Subianto menyerahkan Bendera Merah Putih kepada Celine. Pada saat itu, perhatian peserta dan kamera tertuju pada interaksi di tangga Istana Merdeka.

Celine harus menjaga baki tetap stabil ketika menerima bendera. Setelah penyerahan selesai, ia memberi penghormatan sesuai tata gerakan dan kembali menuju formasi.

Bendera kemudian dibawa ke area tiang untuk diserahkan kepada petugas pengibar. Seluruh tahapan perlu dilakukan tanpa gerakan terburu buru.

Jarak antara Istana dan tiang bendera membuat Celine harus berjalan dalam durasi cukup panjang. Konsentrasi tidak boleh berkurang meski telah melewati bagian penyerahan.

Posisi baki juga harus dipertahankan pada tinggi yang sesuai. Perubahan kecil dapat memengaruhi kerapian visual dan kenyamanan saat bendera dipindahkan.

Baki Bendera Mempunyai Fungsi Khusus

Baki digunakan sebagai tempat membawa Bendera Merah Putih dalam rangkaian pengibaran dan penurunan. Perlengkapan tersebut dirancang agar bendera dapat diletakkan dengan aman serta terhormat.

Pembawa baki memegangnya dengan kedua tangan. Posisi lengan, telapak, bahu, dan punggung harus stabil agar baki tidak miring.

Beban baki mungkin tidak terlihat berat, tetapi harus dibawa sambil berjalan tegap dan menaiki tangga. Ketegangan pada lengan dapat meningkat jika posisi tidak tepat.

Petugas berlatih membawa baki menggunakan beban yang disesuaikan. Latihan membantu otot terbiasa dan menjaga gerakan tetap halus.

Baki juga perlu diperiksa sebelum upacara. Permukaan, pegangan, kain pelapis, dan kebersihannya harus berada dalam keadaan baik.

Bendera diletakkan dengan lipatan sesuai aturan. Tidak ada bagian yang boleh menyentuh lantai atau berada dalam posisi yang tidak layak.

Membawa Baki Memerlukan Keseimbangan Tubuh

Langkah Paskibraka mempunyai panjang dan kecepatan yang telah ditentukan. Celine harus mempertahankan pola tersebut sambil membawa baki.

Gerakan kaki tidak boleh terlalu lebar atau pendek. Kepala tetap tegak, pandangan lurus, dan bahu tidak bergerak berlebihan.

Ketika menaiki tangga, petugas perlu menghitung setiap pijakan. Kesalahan menempatkan kaki dapat mengganggu keseimbangan dan posisi baki.

Tangga Istana mempunyai ukuran serta jumlah anak tangga yang telah dipelajari selama gladi. Celine tidak dapat menunduk terus menerus untuk melihat pijakan.

Latihan membentuk ingatan gerak sehingga tubuh mengetahui jarak tanpa banyak melihat ke bawah. Kepercayaan terhadap latihan menjadi penting pada hari pelaksanaan.

Ketika berbalik, gerakan kaki harus tegas tanpa membuat baki bergeser. Perpindahan arah menjadi salah satu bagian yang memerlukan koordinasi tubuh tinggi.

Ekspresi Wajah Harus Tetap Tenang

Pembawa baki perlu mempertahankan ekspresi tenang sepanjang tugas. Rasa gugup tidak boleh mengubah gerakan atau perhatian.

Celine berdiri di hadapan Presiden, pejabat negara, tamu diplomatik, veteran, dan ribuan undangan. Upacara juga disiarkan ke seluruh Indonesia.

Tekanan tersebut dapat meningkatkan detak jantung dan membuat pernapasan berubah. Latihan membantu petugas mengendalikan napas agar tubuh tetap stabil.

Ekspresi tenang bukan berarti tidak mempunyai perasaan. Pembawa baki dapat merasakan bangga, haru, dan gugup, tetapi seluruh emosi harus dikelola selama menjalankan tugas.

Setelah keluar dari lapangan, petugas baru mempunyai ruang lebih besar untuk melepaskan ketegangan. Selama berada dalam formasi, disiplin tetap menjadi pegangan.

Seragam Putih Menjadi Identitas Paskibraka

Celine mengenakan seragam Paskibraka berwarna putih yang dipadukan dengan peci hitam, sarung tangan, sepatu, dan perlengkapan lainnya.

Seragam harus berada dalam kondisi rapi. Lipatan, kancing, tanda, ukuran, dan posisi perlengkapan diperiksa sebelum anggota memasuki lapangan.

Warna putih mudah memperlihatkan noda sehingga kebersihan menjadi perhatian khusus. Anggota juga perlu berhati hati saat berpindah dari ruang persiapan menuju tempat upacara.

Sepatu harus sesuai ukuran dan nyaman digunakan. Alas kaki yang terlalu longgar atau sempit dapat mengganggu langkah, terutama ketika harus menaiki tangga.

Sarung tangan membantu menciptakan tampilan seragam sekaligus menjaga kontak dengan perlengkapan. Ukurannya harus tepat agar tangan tetap dapat memegang baki secara kuat.

Seluruh anggota mengenakan susunan pakaian yang sama sesuai kelompoknya. Keseragaman memperlihatkan bahwa mereka hadir sebagai satu pasukan, bukan sebagai individu dari daerah berbeda.

Eighteen Jeanette Hekboy Menjadi Pembawa Baki Cadangan

Celine didampingi oleh Eighteen Jeanette Hekboy sebagai pembawa baki cadangan pada upacara pagi. Eighteen merupakan perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ia tercatat sebagai siswi SMA Negeri 1 Kupang. Meskipun berstatus cadangan, Eighteen menjalani latihan dan standar kesiapan yang sama dengan petugas utama.

Pembawa baki cadangan harus mampu menggantikan petugas kapan saja jika terjadi gangguan kesehatan atau keadaan lain. Karena itu, seluruh gerakan dan posisi harus dikuasai sepenuhnya.

Peran cadangan sering tidak terlihat di lapangan, tetapi menjadi bagian penting dari kesiapan tim. Upacara kenegaraan tidak boleh bergantung hanya pada satu orang tanpa pilihan pengganti.

Eighteen tetap mengikuti seluruh proses pembinaan dan gladi. Keberadaannya memastikan posisi pembawa baki dapat tetap dijalankan meski susunan berubah mendekati pelaksanaan.

Neeltje Deliana Membawa Baki pada Upacara Sore

Upacara penurunan Bendera Merah Putih menggunakan tim berbeda. Tugas pembawa baki dipercayakan kepada Neeltje Deliana Insjowi Werimon dari Provinsi Papua.

Neeltje merupakan siswi SMA Negeri 8 Jayapura. Ia tergabung dalam Tim Paskibraka Indonesia Adil Makmur yang bertugas pada sore hari.

Perjalanan Neeltje membawa Papua ke Istana Merdeka mendapat perhatian karena memperlihatkan keterwakilan wilayah timur Indonesia dalam posisi utama.

Ia lahir di Jayapura pada 15 Mei 2010. Neeltje merupakan putri dari Aiwoisendin Hendrik Werimon dan Steffi Edithya Florence Awom.

Pelajar yang akrab disapa Nel tersebut dikenal aktif dalam organisasi. Ia pernah memegang tanggung jawab sebagai Ketua OSIS ketika menempuh pendidikan di SMP YPJ Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Neeltje juga pernah menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.

Neeltje Aktif dalam Musik, Olahraga, dan Organisasi

Selain mengikuti Paskibraka, Neeltje memiliki minat pada musik dan olahraga. Ia dapat memainkan piano, gitar, serta ukulele.

Kegiatan bernyanyi juga menjadi salah satu kemampuannya. Pengalaman dalam musik membantu membentuk ketekunan karena memainkan alat membutuhkan latihan yang teratur.

Dalam bidang olahraga, Neeltje menyukai tenis. Kegiatan tersebut membantu kebugaran, koordinasi, dan daya tahan tubuh.

Pengalaman sebagai Ketua OSIS memperkenalkannya pada kepemimpinan serta pengelolaan kegiatan sekolah. Kemampuan berorganisasi menjadi salah satu modal saat memasuki pembinaan Paskibraka.

Setelah kembali ke Papua, Neeltje berlatih dan mengikuti seleksi Paskibraka. Proses tersebut membawanya menjadi wakil Papua di tingkat pusat.

Kepercayaan sebagai pembawa baki penurunan bendera melengkapi perjalanannya. Ia bertugas menerima kembali Bendera Merah Putih setelah diturunkan oleh pasukan.

Tim Indonesia Adil Makmur Bertugas Menurunkan Bendera

Nama Indonesia Adil Makmur diambil dari dua unsur lain dalam tema HUT RI ke 81. Tim ini mendapat tugas dalam upacara sore di Istana Merdeka.

Baruno Wicaksono dari Jawa Barat dipercaya sebagai Komandan Kelompok Tujuh Belas. Ia merupakan siswa SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi.

Komandan Kompi Paskibraka pada upacara sore dipercayakan kepada Kapten Penerbang Bagus Setianto. Ia mengendalikan formasi pasukan saat menjalankan tugas.

Komandan Upacara Penurunan Bendera adalah Kombes Pol Jerrold Hendra Yosef Kumontoy. Seluruh kelompok bergerak di bawah komando upacara yang dipimpinnya.

Penurunan bendera membutuhkan ketelitian yang sama dengan pengibaran. Kecepatan bendera harus disesuaikan dengan lagu Indonesia Raya, kemudian dilipat sesuai ketentuan.

Setelah dilipat, Bendera Merah Putih diserahkan kepada Neeltje yang membawa baki. Ia kemudian mengantarkan bendera kepada Inspektur Upacara sesuai rangkaian yang ditetapkan.

Ismi Ulfaidah Disiapkan sebagai Pembawa Baki Cadangan Sore

Ismi Ulfaidah dari Provinsi Sulawesi Barat menjadi pembawa baki cadangan pada upacara penurunan. Ia mempunyai catatan tersendiri sebagai siswi Sekolah Rakyat yang berhasil mencapai Paskibraka tingkat pusat.

Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan menjadi Paskibraka dapat diraih pelajar dari beragam latar pendidikan.

Sebagai cadangan, Ismi harus menguasai seluruh tugas Neeltje. Ia mengikuti latihan yang sama serta memahami jalur pergerakan dari formasi menuju tempat penerimaan bendera.

Posisi cadangan membutuhkan kesiapan mental khusus. Petugas harus selalu siap tampil meski belum mengetahui apakah akan menggantikan anggota utama.

Ismi tetap menjadi bagian penuh dari Tim Indonesia Adil Makmur. Status cadangan tidak mengurangi tanggung jawab dan nilai keterpilihannya sebagai Paskibraka nasional.

Tugas Pagi dan Sore Memiliki Perbedaan Gerakan

Celine membawa baki saat Bendera Merah Putih akan dikibarkan. Ia menerima bendera dari Presiden, kemudian mengantarkannya menuju petugas pengibar.

Neeltje menjalankan arah sebaliknya pada sore hari. Ia menerima bendera yang telah diturunkan dan dilipat, kemudian membawanya menuju Inspektur Upacara.

Perbedaan tersebut memengaruhi susunan langkah dan titik berhenti. Meskipun sama sama membawa baki, urutan pergerakan harus dipelajari secara terpisah.

Pada pagi hari, bendera bergerak dari Istana menuju tiang. Sore hari, bendera bergerak dari tiang kembali menuju Istana.

Kedua petugas harus memahami posisi pasukan, komandan, pembawa acara, korps musik, dan Inspektur Upacara. Gerakan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengikuti anggota di depan.

Tanda dari komandan serta alunan musik membantu menentukan waktu. Namun, pembawa baki tetap harus mengingat seluruh urutan tanpa bergantung pada satu petunjuk.

Paskibraka Nasional 2026 Berasal dari 38 Provinsi

Sebanyak 76 pelajar terpilih menjadi Paskibraka Tingkat Pusat 2026. Setiap provinsi mengirimkan satu putra dan satu putri.

Komposisi tersebut menjadikan Paskibraka sebagai gambaran keberagaman Indonesia. Pelajar dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua menjalani latihan bersama.

Mereka datang dengan bahasa daerah, kebiasaan, sekolah, dan pengalaman yang berbeda. Selama pemusatan latihan, seluruh peserta mengikuti aturan serta tujuan yang sama.

Pembentukan tim tidak hanya berfokus pada ketepatan baris berbaris. Anggota juga menerima pembinaan nilai Pancasila, kebangsaan, kepemimpinan, dan kerja kelompok.

Kebersamaan selama latihan membantu menghilangkan jarak antardaerah. Peserta belajar mengenal Indonesia melalui pertemanan langsung dengan pelajar dari provinsi lain.

Seleksi Dimulai dari Tingkat Daerah

Perjalanan menuju Paskibraka pusat dimulai melalui seleksi di daerah. Pelajar harus mengikuti tahapan yang ditentukan dari tingkat kabupaten atau kota, provinsi, sampai nasional.

Pemeriksaan kesehatan memastikan calon mampu menjalani latihan fisik. Ketahanan tubuh diperlukan karena kegiatan dilakukan selama berjam jam dan berulang.

Penilaian postur membantu menentukan kesesuaian dalam formasi. Namun, tinggi badan bukan satu satunya unsur. Kedisiplinan, pengetahuan, mental, dan kemampuan bekerja sama juga diperiksa.

Calon mengikuti tes wawasan kebangsaan serta nilai Pancasila. Pengetahuan tersebut dibutuhkan karena Paskibraka dipersiapkan sebagai generasi yang membawa semangat persatuan.

Pada tingkat pusat, hasil seleksi daerah kembali diperiksa. Peserta yang terpilih kemudian mengikuti pembinaan sebelum dikukuhkan.

Celine dan Neeltje melewati seluruh tahap tersebut sebelum memperoleh posisi utama pada 17 Agustus 2026.

Latihan Pembawa Baki Dilakukan Berulang Kali

Pembawa baki berlatih menggunakan jalur yang sama dengan lokasi pelaksanaan. Tangga, lapangan, jarak, dan titik berhenti dipelajari secara teliti.

Latihan dimulai tanpa membawa bendera. Petugas membiasakan langkah serta posisi tangan dengan baki latihan.

Setelah gerakan stabil, beban dan susunan perlengkapan dibuat mendekati keadaan sebenarnya. Pengulangan dilakukan sampai tubuh mampu bergerak tanpa ragu.

Petugas juga berlatih menerima dan menyerahkan bendera. Kedua tangan harus bekerja secara terkoordinasi tanpa membuat baki miring.

Gladi bersama melibatkan Presiden pengganti, Komandan Upacara, Paskibraka, pasukan, dan korps musik. Seluruh unsur kemudian disatukan dalam satu rangkaian.

Koreksi diberikan jika langkah terlalu cepat, jarak kurang tepat, atau posisi baki berubah. Setiap kesalahan diperbaiki sebelum gladi berikutnya.

Ketahanan Mental Sama Pentingnya dengan Kemampuan Fisik

Latihan fisik dapat membentuk kekuatan kaki dan tangan, tetapi pembawa baki juga membutuhkan ketahanan mental. Tekanan pada hari pelaksanaan jauh lebih besar dibandingkan latihan biasa.

Petugas mengetahui bahwa kesalahan kecil dapat terlihat oleh jutaan penonton. Kesadaran tersebut dapat menambah rasa gugup.

Pelatih membantu anggota mengelola tekanan melalui simulasi. Semakin sering suasana upacara diulang, semakin siap tubuh serta pikiran menghadapi pelaksanaan sebenarnya.

Teknik pernapasan membantu menjaga ketenangan. Pembawa baki juga diarahkan memusatkan perhatian pada urutan tugas, bukan pada jumlah orang yang menyaksikan.

Dukungan dari anggota tim memberikan rasa aman. Celine dan Neeltje tidak bertugas sendirian karena setiap orang dalam formasi mempunyai peran yang saling mendukung.

Tugas Tidak Berakhir Setelah Bendera Diserahkan

Setelah menyerahkan bendera, pembawa baki masih harus kembali menuju posisi dan mengikuti rangkaian upacara sampai selesai.

Celine tetap berada dalam formasi setelah pengibaran. Ia tidak dapat langsung meninggalkan lapangan meski tugas utamanya telah dilaksanakan.

Hal serupa berlaku bagi Neeltje pada sore hari. Setelah bendera diserahkan kembali, ia tetap mengikuti tata gerak pasukan.

Konsentrasi harus dipertahankan sampai komandan menyatakan upacara selesai. Gerakan keluar lapangan juga menjadi bagian yang dinilai dari keseragaman.

Setelah seluruh rangkaian selesai, anggota mengikuti pemeriksaan dan kegiatan lanjutan. Perlengkapan dikembalikan serta disimpan sesuai ketentuan.

Pengalaman membawa baki di Istana kemudian tercatat sebagai bagian dari perjalanan Celine Olivia Apriani Theo dan Neeltje Deliana Insjowi Werimon dalam Paskibraka Nasional 2026.