Anak Mudah Marah, Ini 6 Cara Mengajarkannya Lebih Tenang

Gaya Hidup814 views

Anak Mudah Marah, Ini 6 Cara Mengajarkannya Lebih Tenang Amarah pada anak sering membuat orang tua bingung. Ada anak yang menangis keras ketika keinginannya tidak dipenuhi, ada yang memukul, melempar barang, berteriak, atau menutup diri ketika kecewa. Meski terlihat melelahkan, amarah sebenarnya bagian dari perkembangan emosi anak. Yang perlu dilakukan orang tua bukan mematikan rasa marah, tetapi mengajarkan anak mengenali, menyampaikan, dan mengendalikannya dengan cara yang aman.

Para ahli perkembangan anak menekankan bahwa anak membutuhkan bantuan orang dewasa untuk memahami emosi besar. American Academy of Pediatrics menyarankan orang tua membantu anak menamai perasaan, memberi pilihan, memuji ketika anak memakai kata kata, dan membuat rutinitas menenangkan.

1. Bantu Anak Menamai Rasa Marahnya

Anak kecil sering marah bukan karena ingin melawan orang tua, melainkan karena belum punya cukup kata untuk menjelaskan isi hatinya. Ketika mainan direbut, makanan tidak sesuai, atau waktu bermain selesai, mereka bisa merasa kecewa, malu, lelah, atau kesal, tetapi semua perasaan itu keluar sebagai tangisan dan teriakan.

Orang tua dapat membantu dengan kalimat sederhana. Misalnya, “Kamu marah karena mainannya diambil,” atau “Kamu kecewa karena belum mau berhenti bermain.” Cara ini membuat anak belajar bahwa perasaan punya nama. Setelah emosi punya nama, anak lebih mudah diajak mencari cara menenangkan diri.

AAP juga menyarankan orang tua memuji anak ketika mereka berhasil menggunakan kata kata untuk menyampaikan perasaan, bukan melampiaskannya lewat tantrum atau tindakan agresif.

2. Tetap Tenang agar Anak Punya Contoh

Anak belajar dari cara orang dewasa bereaksi. Jika orang tua membalas amarah anak dengan bentakan, ancaman, atau pukulan, anak dapat menyerap pola bahwa marah berarti menyerang. Sebaliknya, ketika orang tua berusaha tetap tenang, anak melihat contoh bahwa emosi kuat tetap bisa dikelola.

Tetap tenang bukan berarti membiarkan perilaku buruk. Orang tua tetap boleh tegas, tetapi suara dan tindakan perlu dijaga. Kalimat seperti, “Ibu tahu kamu marah, tapi tidak boleh memukul,” jauh lebih membantu daripada mempermalukan anak.

Stanford Children’s Health menjelaskan bahwa pengelolaan amarah orang tua dapat menjadi contoh sehat bagi anak dalam menghadapi situasi sulit dan menyelesaikan konflik.

3. Ajarkan Anak Berhenti Sebentar Sebelum Bereaksi

Anak perlu dilatih bahwa saat marah, mereka tidak harus langsung bertindak. Jeda singkat dapat membantu tubuh turun dari keadaan tegang. Cara ini bisa diajarkan sejak dini melalui latihan napas, menghitung pelan, memegang benda lembut, minum air, atau pindah ke tempat yang lebih tenang.

Latihan ini sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika anak sedang meledak. Ajarkan saat suasana netral. Misalnya, orang tua dan anak bermain pura pura sedang kesal, lalu berlatih menarik napas bersama. Ketika anak benar benar marah, ia sudah mengenal langkah yang harus dilakukan.

CDC menyarankan jeda, napas menenangkan, dan mengakui perasaan sebagai cara membantu tubuh menghadapi amarah.

4. Buat Aturan Jelas tentang Perilaku Saat Marah

Anak perlu tahu bahwa semua perasaan boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan. Marah boleh, memukul tidak boleh. Kesal boleh, melempar barang tidak boleh. Kecewa boleh, melukai diri sendiri atau orang lain tidak boleh.

Aturan seperti ini harus konsisten. Jika hari ini memukul dilarang, besok pun tetap dilarang. Orang tua juga perlu memberi pilihan pengganti, seperti memeluk bantal, meremas bola, menggambar wajah marah, atau bicara setelah lebih tenang.

NHS menyarankan orang tua bekerja sama dengan anak menghadapi amarah, sehingga anak memahami bahwa masalahnya adalah amarah yang perlu dikelola, bukan dirinya sebagai pribadi.

5. Cari Pemicu Amarah Anak

Anak biasanya tidak marah tanpa sebab. Pemicu bisa datang dari lapar, mengantuk, terlalu banyak layar, jadwal berubah, rebutan mainan, kesulitan mengerjakan sesuatu, atau merasa tidak didengar. Jika pemicunya dikenali, orang tua dapat mencegah ledakan emosi lebih awal.

Misalnya, anak sering marah menjelang sore karena lelah. Orang tua bisa mengatur waktu istirahat lebih baik. Jika anak sering meledak setelah bermain gawai, durasi layar perlu dibatasi. Jika anak marah saat kalah bermain, orang tua bisa melatihnya menerima giliran dan kekalahan secara bertahap.

UNICEF menjelaskan bahwa tantrum pada anak usia sekitar 1,5 sampai 5 tahun dapat terjadi karena anak belum mampu mengatur amarah ketika keinginannya tidak terpenuhi.

6. Beri Pujian Saat Anak Berhasil Mengendalikan Diri

Anak membutuhkan penguatan saat berhasil melakukan hal baik. Jangan hanya menegur ketika anak marah. Saat anak mampu berkata, “Aku kesal,” berhenti memukul, menarik napas, atau mau bicara setelah tenang, berikan pujian yang jelas.

Contohnya, “Ayah senang kamu tadi tidak melempar mainan dan mau bilang kalau kamu kesal.” Pujian seperti ini membantu anak memahami perilaku mana yang perlu diulang. Anak merasa usahanya terlihat, bukan hanya kesalahannya yang diperhatikan.

Pendekatan pengasuhan positif menekankan hubungan hangat, arahan lembut, dan bimbingan perilaku anak secara konsisten. UNICEF menyebut positive parenting berfokus pada hubungan yang kuat dan penuh perhatian sambil membimbing perilaku anak.

Saat Anak Marah di Tempat Umum

Amarah anak di tempat umum sering membuat orang tua panik karena merasa dilihat banyak orang. Dalam kondisi seperti ini, fokus utama bukan menyenangkan orang sekitar, tetapi menjaga anak tetap aman dan membantu emosinya turun.

Bawa anak ke tempat yang lebih tenang jika memungkinkan. Turunkan suara, jaga jarak dari benda berbahaya, lalu gunakan kalimat singkat. Terlalu banyak nasihat saat anak sedang meledak biasanya tidak masuk. Tunggu sampai anak lebih tenang, baru jelaskan aturan dan pilihan.

Jika anak memukul, pegang tangannya dengan lembut tetapi tegas. Katakan, “Tidak boleh memukul. Kita tenang dulu.” Setelah situasi mereda, ajak anak memahami apa yang terjadi tanpa mempermalukannya.

Hindari Hukuman Fisik dan Kata yang Melukai

Saat anak marah, sebagian orang tua tergoda memakai hukuman keras agar anak cepat diam. Namun, cara seperti memukul, mencubit, mempermalukan, atau mengancam dapat membuat anak takut, bukan paham. Anak mungkin berhenti menangis saat itu, tetapi belum tentu belajar mengelola emosi.

Hukuman fisik juga dapat mengajarkan bahwa orang yang lebih kuat boleh menyakiti orang yang lebih lemah. Anak yang sering menerima perlakuan keras bisa meniru pola itu kepada teman, adik, atau orang lain.

American Academy of Pediatrics melalui laporan yang banyak dirujuk menyatakan hukuman fisik tidak efektif mengajarkan tanggung jawab atau kontrol diri dan dapat meningkatkan agresi pada anak.

Tabel 6 Cara Mengajarkan Anak Mengelola Amarah

CaraContoh penerapan
Menamai emosi“Kamu marah karena mainanmu diambil”
Menjadi contoh tenangOrang tua bicara pelan dan tidak membentak
Melatih jedaTarik napas, hitung sampai lima, minum air
Membuat batasMarah boleh, memukul tidak boleh
Mengenali pemicuCek apakah anak lapar, lelah, atau terlalu banyak layar
Memberi pujianPuji saat anak memakai kata kata dan tidak menyerang

Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan

Amarah anak perlu mendapat perhatian khusus bila sangat sering terjadi, berlangsung lama, disertai tindakan melukai diri atau orang lain, merusak barang, mengganggu sekolah, atau membuat hubungan keluarga terus tegang. Bantuan profesional juga penting bila anak tampak sangat cemas, sulit tidur, sering ketakutan, atau kehilangan minat bermain.

Psikolog anak dapat membantu orang tua memahami pemicu, pola komunikasi keluarga, dan cara melatih regulasi emosi sesuai usia anak. Bantuan seperti ini bukan tanda orang tua gagal. Justru, pendampingan dapat membuat keluarga punya cara yang lebih sehat menghadapi emosi besar anak.

Mengajarkan anak mengelola amarah membutuhkan waktu. Anak tidak langsung mampu tenang hanya karena diberi tahu satu kali. Ia butuh contoh, latihan berulang, batas yang konsisten, dan orang tua yang mau hadir tanpa ikut meledak saat anak sedang kewalahan.