Prabowo Akrab dengan Putin, Xi, dan Modi, Momen Hangat di KTT BRICS

Berita21 views

Presiden Prabowo Subianto mencuri perhatian di sela Konferensi Tingkat Tinggi BRICS ke 18 di New Delhi, India. Sebelum rangkaian pembukaan dimulai di Bharat Mandapam pada Sabtu, 12 September 2026, Prabowo terlihat berbincang santai bersama tiga pemimpin yang memiliki posisi penting dalam BRICS, yakni Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Pertemuan tersebut tidak berlangsung dalam format rapat bilateral resmi. Para pemimpin berdiri berdekatan dan berkomunikasi di sela agenda konferensi. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menggambarkan percakapan keempat pemimpin berlangsung hangat dan bersahabat. Foto yang beredar kemudian menjadi perhatian karena memperlihatkan Prabowo berada dalam lingkaran pembicaraan bersama tiga pemimpin utama BRICS.

Bagi Indonesia, pertemuan di New Delhi juga mempunyai posisi khusus. Ini merupakan KTT BRICS yang dihadiri Prabowo ketika Indonesia telah berstatus sebagai anggota penuh. Indonesia resmi bergabung ke BRICS pada 6 Januari 2025 dan kini berada dalam kelompok yang anggotanya mencakup sejumlah perekonomian besar dari Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin.

Prabowo Awalnya Bersama Putin Sebelum Modi dan Xi Jinping Bergabung

Momen yang menarik perhatian terjadi tidak lama sebelum sesi pembukaan KTT dimulai. Prabowo diketahui lebih dahulu berada bersama Presiden Vladimir Putin. Tidak lama kemudian, Narendra Modi serta Xi Jinping ikut bergabung dalam percakapan tersebut.

Tidak ada rincian resmi mengenai isi pembicaraan mereka karena percakapan berlangsung informal dan bukan sebuah pertemuan bilateral yang memiliki agenda khusus.

Meski singkat, posisi Prabowo di antara Putin, Xi, dan Modi memberikan gambaran mengenai intensitas komunikasi yang berlangsung di forum BRICS. Ketiga negara tersebut merupakan anggota awal kelompok BRICS dan mempunyai bobot ekonomi serta politik yang besar.

India menjadi tuan rumah KTT tahun ini, Rusia merupakan salah satu kekuatan utama dalam kelompok tersebut, sedangkan China merupakan ekonomi terbesar di antara negara anggota BRICS. Indonesia datang sebagai salah satu anggota yang relatif baru, sehingga ruang komunikasi langsung seperti itu menjadi bagian penting dalam membangun hubungan di dalam kelompok.

“Menurut penulis, bagian paling menarik dari pertemuan tersebut bukan sekadar foto empat pemimpin dalam satu tempat, tetapi terlihatnya akses komunikasi Indonesia dengan sejumlah negara besar dalam waktu yang hampir bersamaan.”

Narendra Modi Sambut Prabowo Langsung di Bharat Mandapam

Hubungan Prabowo dengan Narendra Modi sudah terlihat sejak Presiden Indonesia tiba di lokasi KTT. Ketika Prabowo sampai di Bharat Mandapam sekitar pukul 14.30 waktu setempat pada Sabtu, Modi berdiri menyambut tamunya.

Prabowo menyapa Modi dengan menangkupkan kedua telapak tangan. Modi membalas sapaan serupa sebelum keduanya berjabat tangan dan berpelukan. Mereka kemudian melakukan sesi foto bersama di area penyambutan.

Interaksi itu berlangsung ketika India memegang keketuaan BRICS 2026. Pemerintah India mengangkat tema Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability dalam KTT di New Delhi. Fokusnya mencakup ketahanan, inovasi, kerja sama, pembangunan berkelanjutan, reformasi tata kelola global, energi, pangan, teknologi, serta pembangunan negara Global South.

Indonesia dan India sendiri mempunyai kepentingan luas dalam memperkuat hubungan ekonomi. Di BRICS, kedua negara juga sama sama membawa posisi sebagai negara besar di kawasan Indo Pasifik dengan populasi besar dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat.

Kehadiran Prabowo memberi ruang untuk memperluas pembicaraan Indonesia dengan India, baik melalui agenda BRICS maupun hubungan bilateral. Bidang perdagangan, ketahanan pangan, investasi, teknologi, energi, dan pengembangan industri menjadi sektor yang mempunyai peluang besar untuk terus dikembangkan.

Kedekatan Prabowo dan Putin Sudah Terlihat dalam Sejumlah Pertemuan

Percakapan Prabowo dengan Vladimir Putin di New Delhi bukan merupakan pertemuan pertama kedua pemimpin. Hubungan Indonesia dan Rusia dalam beberapa waktu terakhir juga diwarnai pertemuan langsung yang cukup intensif.

Pada April 2026, Prabowo bertemu Putin di Moskow. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar lima jam, terdiri dari pembicaraan bilateral dan pertemuan langsung kedua kepala negara. Pembicaraan mereka antara lain menyentuh sektor energi, sumber daya mineral, hilirisasi, serta pengembangan industri.

Rusia juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu mitra pentingnya di kawasan Asia Pasifik. Kerja sama kedua negara mencakup pertanian, pembangunan kapal, teknologi digital, energi, perdagangan, serta sejumlah sektor strategis lainnya.

Di New Delhi, Prabowo terlihat kembali memiliki ruang komunikasi langsung dengan Putin sebelum Modi dan Xi bergabung.

Momen tersebut berlangsung ketika Rusia mendorong BRICS menjadi kelompok dengan kerja sama ekonomi yang semakin konkret. Rusia juga mendorong negara anggota menggabungkan keunggulan ekonomi masing masing agar kelompok tersebut mempunyai kapasitas lebih besar dalam perdagangan dan pembangunan.

Xi Jinping Ikut Masuk dalam Percakapan Empat Pemimpin

Kehadiran Xi Jinping melengkapi percakapan Prabowo, Putin, dan Modi. Presiden China datang ke India dalam pertemuan BRICS yang juga mendapat perhatian karena hubungan Beijing dan New Delhi dalam beberapa tahun terakhir sempat menghadapi sejumlah ketegangan.

Interaksi empat pemimpin tersebut tidak menghasilkan pernyataan bersama secara khusus. Namun, komunikasi informal di sela konferensi tetap memiliki fungsi dalam diplomasi tingkat tinggi karena kepala negara dapat bertukar sapaan dan membangun hubungan sebelum masuk ke pertemuan resmi.

China mempunyai posisi penting bagi Indonesia sebagai salah satu mitra perdagangan dan investasi terbesar. Pada saat bersamaan, Indonesia tetap mempertahankan hubungan dengan negara lain, termasuk India, Rusia, Amerika Serikat, Jepang, negara ASEAN, serta negara Eropa.

Kehadiran Indonesia di BRICS karena itu tidak secara otomatis menempatkan Jakarta dalam satu kubu tertentu. Pemerintah Indonesia tetap menempatkan politik luar negeri bebas aktif sebagai dasar hubungan internasional serta mempertahankan kerja sama dengan berbagai pihak.

Hubungan tersebut semakin penting karena BRICS sendiri berkembang menjadi kelompok yang beranggotakan negara dengan kepentingan yang tidak selalu sama.

Indonesia Hadir sebagai Anggota Penuh BRICS

KTT New Delhi menjadi bagian penting perjalanan Indonesia di BRICS. Presiden Prabowo tiba di Air Force Station Palam, New Delhi, Jumat malam, 11 September 2026. Kedatangannya disambut sejumlah pejabat India serta perwakilan pemerintah Indonesia.

Prabowo datang bersama rombongan terbatas. Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya ikut dalam perjalanan menuju India.

Kehadiran Indonesia sebagai anggota penuh membuat posisi delegasi berbeda dibandingkan ketika hanya mengikuti pertemuan sebagai negara undangan.

Indonesia kini dapat terlibat secara langsung dalam berbagai pembahasan BRICS yang menyangkut ekonomi, perdagangan, pembiayaan pembangunan, energi, pangan, teknologi, hingga tata kelola internasional.

BRICS awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Kelompok tersebut kemudian berkembang dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Indonesia, serta sejumlah negara lain dalam struktur keanggotaan dan kemitraan yang semakin luas.

Prabowo Bicara soal Kekuatan Kolektif Negara BRICS

Setelah percakapan santai bersama Modi, Putin, dan Xi, Prabowo masuk ke agenda utama konferensi. Ia mengikuti sesi terbatas bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism bersama para pemimpin negara anggota.

Dalam sesi tersebut, Prabowo menekankan bahwa kekuatan BRICS tidak cukup hanya tercantum dalam dokumen atau pernyataan resmi. Kerja sama kelompok harus menghasilkan peluang yang dapat dirasakan masyarakat serta memberikan posisi yang lebih kuat kepada negara Global South dalam pengambilan keputusan internasional.

Prabowo juga menilai BRICS memiliki kekuatan besar karena kelompok tersebut menghubungkan pasar dengan jumlah penduduk sangat besar serta sejumlah produsen energi utama dunia.

Pernyataan itu sejalan dengan perubahan ukuran BRICS setelah kelompok tersebut menerima anggota baru. Dengan cakupan yang semakin luas, BRICS mempunyai kapasitas ekonomi, sumber daya alam, energi, populasi, dan pasar yang cukup besar.

Bagi Indonesia, keanggotaan dalam kelompok tersebut memberikan forum tambahan untuk memperjuangkan kebutuhan negara berkembang, termasuk akses pembiayaan, perdagangan, ketahanan energi, teknologi, serta reformasi lembaga internasional.

KTT BRICS New Delhi Membahas Tata Kelola Global

Pembahasan para pemimpin tidak hanya berpusat pada perdagangan. Tata kelola global menjadi salah satu agenda besar dalam KTT ke 18.

Modi sebagai tuan rumah menilai lembaga internasional perlu diperbarui agar representasi, kemampuan merespons persoalan, dan aturan pengambilan keputusan menjadi lebih sesuai dengan perubahan dunia. Pertemuan kemudian menghasilkan Deklarasi New Delhi sebagai dokumen bersama negara anggota.

Rangkaian kegiatan hari pertama juga meliputi pameran Bharat Innovates, BRICS @20 Exhibition, sesi foto para pemimpin, kegiatan penanaman pohon, serta jamuan makan malam.

Di dalam forum lebih luas, negara anggota membicarakan persoalan energi, rantai pasok, perdagangan, pembangunan, kecerdasan buatan, pembiayaan, keamanan pangan, kesehatan, serta reformasi institusi internasional.

BRICS menjadi semakin penting karena kelompok tersebut mencakup negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar serta porsi ekonomi global yang signifikan. India sebagai ketua pada 2026 berusaha membawa pembahasan menuju program yang lebih berorientasi pada hasil.

Xi Jinping Dorong Kerja Sama AI dan Perdagangan BRICS

Pada rangkaian KTT, Xi Jinping membawa sejumlah usulan yang berhubungan dengan ekonomi digital dan perdagangan. China mengusulkan pembentukan BRICS AI Open Source Zone untuk memperluas kerja sama model bahasa besar, pelatihan kecerdasan buatan, dan ekosistem AI terbuka.

Xi juga mengusulkan kerja sama kawasan ekonomi khusus BRICS serta rencana penyelenggaraan forum perdagangan jasa di China. Beijing akan memegang keketuaan BRICS pada 2027 setelah India menyelesaikan masa kepemimpinannya tahun ini.

Putin pada forum yang sama mendorong pemanfaatan keunggulan ekonomi masing masing negara anggota. Modi menekankan bahwa solusi yang dikembangkan BRICS sebaiknya juga dapat digunakan oleh negara berkembang di luar kelompok.

Bagi Indonesia, pembahasan tersebut bersinggungan dengan sejumlah kebutuhan domestik, terutama transformasi industri, teknologi digital, investasi, energi, dan perluasan pasar ekspor.

Foto Empat Pemimpin Menunjukkan Sisi Personal Diplomasi

Pertemuan internasional biasanya identik dengan pidato resmi, meja konferensi, dokumen, serta sesi bilateral. Namun, sebagian komunikasi penting juga terjadi ketika para pemimpin tidak sedang duduk dalam rapat.

Momen Prabowo bersama Putin, Modi, dan Xi merupakan contoh komunikasi semacam itu. Para pemimpin dapat bertukar pandangan dalam suasana lebih santai meskipun percakapan singkat tersebut tidak selalu menghasilkan kesepakatan yang diumumkan kepada publik.

Karena pemerintah tidak membuka isi pembicaraan mereka, tidak tepat pula menyimpulkan bahwa percakapan tersebut langsung menghasilkan kerja sama baru. Hal yang dapat dipastikan adalah Prabowo berada bersama Putin sebelum Modi dan Xi bergabung, kemudian keempatnya berbincang dalam suasana yang disebut hangat dan bersahabat.

“Menurut penulis, keakraban personal tetap perlu dibedakan dari hasil diplomasi. Ukuran keberhasilannya akan terlihat ketika komunikasi antarpemimpin dapat diterjemahkan menjadi kerja sama yang memberikan keuntungan bagi kepentingan Indonesia.”

Indonesia Berusaha Menjaga Ruang Komunikasi dengan Banyak Kekuatan

Kehadiran Prabowo di tengah Putin, Xi, dan Modi juga menunjukkan posisi Indonesia yang memiliki hubungan dengan beberapa pusat kekuatan sekaligus.

Indonesia mempunyai kerja sama ekonomi besar dengan China, hubungan pertahanan dan energi dengan Rusia, serta kemitraan yang terus berkembang dengan India. Pada saat yang sama, Jakarta tetap menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Australia, negara Eropa, serta sesama anggota ASEAN.

Pola tersebut sejalan dengan pendekatan bebas aktif yang memungkinkan Indonesia bekerja sama berdasarkan kepentingan nasional tanpa harus sepenuhnya mengikuti arah satu kekuatan.

BRICS menawarkan jalur tambahan bagi Indonesia untuk memperluas ruang ekonomi dan diplomasi, tetapi bukan satu satunya forum yang digunakan Jakarta. Indonesia tetap aktif dalam ASEAN, G20, Perserikatan Bangsa Bangsa, APEC, dan berbagai kerja sama lainnya.

KTT New Delhi karena itu menjadi tempat Indonesia menguji seberapa jauh keanggotaan BRICS dapat digunakan untuk mendorong perdagangan, investasi, pembiayaan pembangunan, ketahanan pangan, energi, teknologi, dan reformasi tata kelola internasional.

Deklarasi New Delhi Menjadi Salah Satu Hasil Utama Pertemuan

Para pemimpin BRICS menyepakati Deklarasi New Delhi dalam rangkaian KTT 2026. Dokumen tersebut menjadi acuan bersama untuk membawa berbagai komitmen yang dibicarakan selama pertemuan menuju pelaksanaan yang lebih konkret.

KTT juga berlangsung ketika dunia menghadapi ketegangan geopolitik, persoalan rantai pasok, persaingan teknologi, serta tekanan terhadap perdagangan internasional. Para anggota BRICS memiliki pandangan berbeda dalam sejumlah isu, sehingga menghasilkan kesepakatan bersama membutuhkan kompromi.

Negara anggota tetap berusaha mencapai konsensus dalam deklarasi bersama, termasuk pembahasan mengenai ketegangan di Timur Tengah. Pada sisi ekonomi, pembicaraan diarahkan kepada perdagangan, rantai industri, teknologi, investasi, dan peningkatan kerja sama negara Global South.

Prabowo sendiri menekankan agar kapasitas besar yang dimiliki BRICS menghasilkan peluang yang dapat dirasakan masyarakat. Bagi Indonesia, tahap berikutnya bukan hanya mempertahankan kehadiran dalam pertemuan pemimpin, tetapi membawa sektor usaha, lembaga keuangan, industri, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lain untuk memanfaatkan berbagai jalur kerja sama yang tersedia di dalam BRICS.