Ledakan Data Center AI Picu Kekhawatiran Krisis Air, Seberapa Kuat Infrastruktur Indonesia?

Berita25 views

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong pembangunan pusat data dalam skala besar. Fasilitas ini menjadi tulang punggung berbagai layanan digital, mulai dari chatbot, komputasi awan, hingga analisis data perusahaan. Namun, di balik kemajuan tersebut, kebutuhan air untuk mendinginkan server mulai menjadi perhatian serius, termasuk di Indonesia.

Data center AI Indonesia menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan pasokan listrik dan jaringan internet. Pengelola juga harus memastikan ketersediaan air untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil. Jika kebutuhan tersebut tidak direncanakan dengan baik, pembangunan pusat data berpotensi menambah tekanan terhadap sumber air di wilayah sekitarnya.

Persoalan ini semakin relevan karena Indonesia sedang mengembangkan kapasitas infrastruktur digital untuk memenuhi permintaan pasar. Sejumlah proyek pusat data telah beroperasi, sementara investasi baru terus mendorong ekspansi industri. Pertanyaannya, apakah kesiapan infrastruktur air nasional mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan komputasi AI?

Mengapa Pusat Data AI Membutuhkan Banyak Air?

Pusat data merupakan fasilitas yang menampung server, perangkat penyimpanan, sistem jaringan, dan komponen pendukung lainnya. Ketika server memproses permintaan pengguna, perangkat tersebut menghasilkan panas. Suhu yang terlalu tinggi dapat mengganggu kinerja perangkat dan meningkatkan risiko kerusakan.

Karena itu, pengelola pusat data harus menjaga suhu ruangan serta perangkat tetap dalam batas operasional. Sistem pendinginan menjadi bagian penting dari infrastruktur fasilitas tersebut. Pilihan teknologi pendinginan inilah yang turut menentukan besarnya konsumsi air.

Air Digunakan untuk Mengendalikan Panas Server

Salah satu metode pendinginan menggunakan air dalam sistem sirkulasi. Pada sistem tertentu, air membantu menyerap panas dari perangkat sebelum panas tersebut dilepaskan melalui peralatan pendingin. Teknologi ini dapat menggunakan menara pendingin yang melepaskan panas melalui proses penguapan.

Dalam sistem pendinginan evaporatif, sebagian air berubah menjadi uap untuk membuang panas. Air yang menguap perlu diganti agar sistem tetap bekerja. Selain itu, pengelola mungkin harus membuang sebagian air sirkulasi untuk mengendalikan penumpukan mineral dan menjaga kualitas air.

Penggunaan air berbeda pada setiap fasilitas. Pusat data yang mengandalkan sistem pendinginan berbasis udara dapat memiliki kebutuhan air operasional yang lebih rendah. Sebaliknya, fasilitas dengan sistem pendinginan evaporatif dapat membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, bergantung pada desain, kapasitas, dan kondisi lingkungan.

Beban AI Membuat Sistem Pendinginan Semakin Penting

Komputasi AI menggunakan perangkat khusus, termasuk akselerator seperti GPU, untuk menjalankan pelatihan dan inferensi model. Perangkat tersebut dapat menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika beroperasi pada beban tinggi. Akibatnya, desain pendinginan menjadi salah satu pertimbangan utama saat membangun pusat data AI.

International Energy Agency (IEA) menjelaskan bahwa kebutuhan listrik untuk pendinginan dan pengendalian lingkungan berbeda menurut jenis pusat data. Pada fasilitas hyperscale yang efisien, sistem pendinginan dapat mengambil porsi listrik yang relatif kecil. Sementara itu, fasilitas yang kurang efisien bisa menggunakan bagian listrik yang jauh lebih besar untuk kebutuhan tersebut.

Kebutuhan air juga tidak dapat ditentukan hanya dari jumlah server. Pengelola harus memperhitungkan kepadatan komputasi, cuaca, suhu operasional, teknologi pendinginan, serta jumlah air yang dapat digunakan kembali. Oleh sebab itu, dua pusat data dengan kapasitas listrik serupa belum tentu memiliki konsumsi air yang sama.

Seberapa Besar Kebutuhan Air Pusat Data?

Besarnya konsumsi air menjadi salah satu isu penting dalam ekspansi pusat data global. Sejumlah fasilitas berskala hyperscale dapat menggunakan air hingga jutaan liter per hari, terutama jika mengandalkan pendinginan evaporatif. Namun, angka tersebut merupakan gambaran untuk fasilitas tertentu, bukan standar yang berlaku bagi seluruh pusat data.

Perbedaan desain dan lokasi membuat konsumsi air setiap fasilitas perlu diperiksa secara terpisah. Pusat data yang berada di wilayah panas dan memiliki kebutuhan pendinginan tinggi dapat menghadapi kondisi berbeda dari fasilitas di lingkungan yang lebih sejuk. Kualitas sumber air dan efisiensi sistem juga ikut menentukan kebutuhan operasional.

Konsumsi Langsung dan Tidak Langsung

Penggunaan air oleh industri AI tidak terbatas pada air yang masuk ke fasilitas pusat data. Ada pula kebutuhan air tidak langsung yang berkaitan dengan pembangkitan listrik dan produksi perangkat keras. Pembangkit listrik tertentu menggunakan air dalam proses pendinginannya, sedangkan manufaktur semikonduktor memerlukan air dengan tingkat kemurnian tinggi.

Hal ini membuat jejak air AI lebih luas daripada konsumsi yang terlihat di lokasi pusat data. Perhitungan yang hanya mengukur air untuk pendinginan dapat mengabaikan sebagian kebutuhan pada rantai pasok. Karena itu, penilaian lingkungan sebaiknya membedakan penggunaan air langsung dan tidak langsung.

Meski demikian, konsumsi tidak langsung tidak selalu dapat dibebankan seluruhnya kepada satu fasilitas. Perhitungan perlu mempertimbangkan sumber listrik, proses produksi perangkat, dan metode pengukuran yang digunakan. Transparansi data menjadi penting agar perbandingan antarfasilitas tidak menyesatkan.

Mengapa Angka Konsumsi Tidak Bisa Disamaratakan?

Kebutuhan air dipengaruhi oleh teknologi yang dipilih sejak tahap perencanaan. Sistem pendinginan berbasis udara dapat mengurangi ketergantungan pada air, tetapi kebutuhan listriknya perlu dihitung secara menyeluruh. Sementara itu, sistem yang menggunakan air mungkin menawarkan keuntungan dalam kondisi tertentu, tetapi membutuhkan pengelolaan pasokan yang baik.

Penggunaan air daur ulang juga dapat mengurangi tekanan terhadap sumber air bersih. Namun, penerapannya membutuhkan infrastruktur pengolahan, kualitas air yang sesuai, dan jaringan pasokan yang memadai. Tidak semua lokasi memiliki fasilitas tersebut dalam jarak yang ekonomis.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar menghitung berapa banyak air yang dibutuhkan industri. Pemerintah dan pengelola juga perlu menilai apakah sumber air setempat mampu memenuhi kebutuhan tersebut sepanjang tahun. Kondisi musim kemarau, kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri lain harus menjadi bagian dari perencanaan.

Infrastruktur Data Center Indonesia Terus Berkembang

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri pusat data. Jumlah pengguna internet yang besar, pertumbuhan layanan digital, dan kebutuhan komputasi perusahaan mendorong permintaan fasilitas penyimpanan serta pemrosesan data. Posisi geografis Indonesia juga memberikan peluang untuk memperkuat konektivitas digital di kawasan Asia Tenggara.

Kementerian Komunikasi dan Digital pada Agustus 2025 menyebut Indonesia memiliki 185 pusat data dengan kapasitas 274 megawatt. Pemerintah saat itu menargetkan kapasitas lebih dari 2.000 megawatt pada 2029. Target tersebut menunjukkan besarnya rencana ekspansi infrastruktur digital nasional, meskipun realisasi akhirnya bergantung pada perkembangan proyek dan kondisi investasi.

Kapasitas Digital Tidak Cukup Diukur dari Megawatt

Kapasitas pusat data biasanya dibicarakan melalui daya listrik yang tersedia atau dapat digunakan oleh fasilitas. Angka tersebut penting untuk menilai kemampuan komputasi, tetapi belum menggambarkan kesiapan seluruh infrastruktur pendukung. Pasokan air, pengolahan limbah, jaringan listrik, dan konektivitas juga menentukan kelancaran operasional.

Sebuah proyek dapat memiliki akses listrik yang memadai, tetapi tetap menghadapi kendala jika sumber airnya terbatas. Sebaliknya, ketersediaan air yang melimpah tidak otomatis menjamin fasilitas dapat beroperasi apabila jaringan listrik atau sistem distribusinya belum siap. Seluruh komponen perlu direncanakan secara bersamaan.

Untuk data center AI Indonesia, penilaian kesiapan perlu mencakup kondisi wilayah tempat fasilitas dibangun. Pengembang harus memahami kapasitas jaringan air, kebutuhan penduduk, risiko banjir, potensi kekeringan, dan kemampuan pengolahan air limbah. Informasi tersebut membantu menentukan teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat.

Jakarta, Bekasi, dan Batam Menghadapi Tantangan Berbeda

Kawasan Jabodetabek menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri data center karena memiliki akses ke pasar, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur pendukung. Namun, kawasan perkotaan juga memiliki kebutuhan air yang besar dari rumah tangga dan kegiatan ekonomi. Penambahan permintaan dari pusat data perlu diperhitungkan dalam perencanaan pasokan regional.

Batam juga menarik bagi pengembangan pusat data karena posisinya dalam jaringan konektivitas regional. Akan tetapi, ketersediaan sumber air dan kapasitas infrastrukturnya perlu dinilai sesuai kondisi setempat. Keunggulan lokasi untuk konektivitas tidak selalu berarti pasokan air dapat memenuhi seluruh kebutuhan industri.

Karena itu, keputusan lokasi tidak seharusnya hanya didasarkan pada harga lahan, akses jaringan, atau kedekatan dengan pelanggan. Kajian sumber daya air perlu dilakukan sejak awal, termasuk saat menentukan skala proyek dan jenis pendinginan. Pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi risiko gangguan operasional sekaligus menjaga kebutuhan masyarakat tetap menjadi pertimbangan utama.

Risiko Ketika Kebutuhan Industri Bertemu Kebutuhan Masyarakat

Pertumbuhan pusat data dapat memberikan manfaat ekonomi melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan layanan digital. Namun, manfaat tersebut perlu berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya alam. Air merupakan kebutuhan dasar yang juga digunakan rumah tangga, pertanian, fasilitas kesehatan, dan berbagai kegiatan ekonomi.

Ketika beberapa sektor mengandalkan sumber air yang sama, pengelolaan pasokan menjadi semakin penting. Risiko dapat meningkat jika kebutuhan baru muncul lebih cepat daripada kemampuan infrastruktur untuk menyediakan air. Situasi ini perlu diantisipasi terutama di wilayah yang menghadapi tekanan air musiman.

Dampak Musim Kemarau Perlu Diperhitungkan

Ketersediaan air tidak selalu sama sepanjang tahun. Curah hujan, kondisi daerah aliran sungai, kapasitas waduk, dan penggunaan air di wilayah hulu dapat memengaruhi pasokan. Karena itu, perencanaan pusat data perlu menggunakan proyeksi kebutuhan air dalam berbagai kondisi, termasuk ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Pengembang juga perlu menghindari ketergantungan berlebihan pada satu sumber air. Pilihan pasokan alternatif, pemanfaatan air daur ulang, dan sistem penyimpanan dapat dipertimbangkan sesuai kondisi teknis serta aturan yang berlaku. Namun, setiap pilihan harus dinilai berdasarkan dampak lingkungan dan kelayakan operasionalnya.

Tantangan tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan infrastruktur air sama pentingnya dengan kesiapan jaringan listrik. Tanpa perencanaan yang matang, ekspansi pusat data berisiko menghadapi biaya tambahan atau pembatasan operasional ketika pasokan tidak mencukupi. Karena itu, kajian kebutuhan air perlu menjadi bagian utama dalam proses pembangunan, bukan sekadar pemeriksaan setelah fasilitas selesai dibangun.

Teknologi Pendinginan Bisa Menekan Konsumsi Air Data Center

Kebutuhan air untuk pusat data tidak selalu harus meningkat seiring bertambahnya kapasitas komputasi. Pengelola dapat menerapkan teknologi pendinginan yang lebih efisien dan menyesuaikan desain fasilitas dengan kondisi lingkungan. Pilihan tersebut menjadi penting bagi data center AI Indonesia yang ingin berkembang tanpa menambah tekanan berlebihan terhadap sumber air.

Pendinginan Cair Menjadi Alternatif untuk Beban AI

Pendinginan cair atau liquid cooling semakin relevan untuk fasilitas yang menggunakan server AI dengan kepadatan komputasi tinggi. Teknologi ini membawa panas dari komponen elektronik melalui cairan yang bersirkulasi di dekat sumber panas. Dengan cara tersebut, pengelola dapat mengendalikan suhu perangkat secara lebih terarah.

Salah satu penerapannya adalah direct-to-chip cooling, yaitu sistem yang mengalirkan cairan melalui pelat pendingin pada prosesor atau GPU. Cairan tersebut menyerap panas, kemudian panas dipindahkan ke sistem pembuangan panas. Dalam konfigurasi tertentu, sistem ini dapat membantu meningkatkan efisiensi pendinginan pada rak server berdaya tinggi.

Namun, penggunaan pendinginan cair tidak otomatis menghilangkan kebutuhan air. Banyak sistem menggunakan sirkuit cairan tertutup yang mengurangi kehilangan cairan selama operasi. Meski demikian, fasilitas tetap membutuhkan mekanisme untuk membuang panas dari sirkuit tersebut, dan kebutuhan air akhirnya bergantung pada desain keseluruhan.

Karena itu, pengembang perlu membandingkan beberapa teknologi berdasarkan konsumsi air, penggunaan listrik, biaya pemeliharaan, dan kondisi iklim. Sistem yang hemat air belum tentu paling hemat energi dalam setiap situasi. Penilaian menyeluruh diperlukan agar efisiensi tidak hanya berpindah dari satu sumber daya ke sumber daya lainnya.

Air Daur Ulang Dapat Menjadi Pilihan

Penggunaan air hasil pengolahan limbah menjadi salah satu opsi untuk mengurangi ketergantungan pada air bersih. Air yang telah diolah dapat digunakan untuk kebutuhan pendinginan tertentu apabila kualitasnya memenuhi persyaratan teknis. Langkah ini juga dapat membantu memanfaatkan kembali sumber daya yang sebelumnya dibuang.

Penerapannya membutuhkan fasilitas pengolahan yang memadai dan pasokan yang konsisten. Kualitas air harus dipantau untuk mencegah penumpukan mineral, korosi, serta gangguan pada peralatan. Pengelola juga perlu memastikan proses pengolahan memenuhi standar lingkungan yang berlaku.

Di wilayah yang memiliki jaringan air daur ulang, pusat data dapat bekerja sama dengan pengelola sistem air setempat. Kerja sama tersebut perlu memperhitungkan kapasitas produksi, biaya distribusi, dan kebutuhan pengguna lain. Dengan perencanaan yang tepat, air daur ulang dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan air industri.

Peran Pemerintah dalam Menjaga Kesiapan Infrastruktur Air

Pertumbuhan industri pusat data memerlukan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyedia air, perusahaan listrik, dan pengembang. Setiap pihak memiliki tanggung jawab berbeda, tetapi keputusan yang dibuat akan saling memengaruhi. Pembangunan fasilitas baru perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan sejak tahap awal.

Kajian Air Perlu Menjadi Bagian dari Pemilihan Lokasi

Sebelum membangun pusat data, pengembang perlu mengukur kebutuhan air untuk berbagai kondisi operasional. Perhitungan tersebut harus mencakup kebutuhan rata-rata, potensi kenaikan beban komputasi, serta skenario ketika pasokan menurun. Hasil kajian dapat membantu menentukan kapasitas fasilitas dan teknologi pendinginan yang sesuai.

Pemerintah daerah juga perlu memahami kondisi sumber air di sekitar lokasi proyek. Data mengenai kebutuhan rumah tangga, aktivitas pertanian, industri lain, dan risiko kekeringan dapat membantu menilai apakah tambahan permintaan masih dapat dipenuhi. Jika kapasitas terbatas, pengembang perlu mempertimbangkan lokasi alternatif atau teknologi yang lebih hemat air.

Kajian tersebut sebaiknya tidak berhenti pada dokumen awal pembangunan. Kebutuhan air dapat berubah ketika kapasitas server bertambah atau fasilitas beralih ke komputasi AI yang lebih intensif. Pemantauan berkala diperlukan untuk memastikan penggunaan aktual tetap sesuai dengan rencana dan persyaratan yang berlaku.

Transparansi Data Konsumsi Air

Salah satu cara memperkuat pengawasan adalah mendorong pelaporan penggunaan air secara konsisten. Pengelola pusat data dapat mengukur jumlah air yang diambil, digunakan, didaur ulang, dan dikembalikan ke lingkungan. Data tersebut membantu pemerintah menilai efisiensi sekaligus memahami dampak operasional fasilitas.

Pelaporan perlu menggunakan metode pengukuran yang jelas. Konsumsi air langsung di lokasi sebaiknya dibedakan dari penggunaan tidak langsung yang terkait dengan listrik atau rantai pasok perangkat keras. Pemisahan ini penting agar angka yang dipublikasikan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Informasi yang transparan juga dapat membantu masyarakat memahami hubungan antara pertumbuhan industri digital dan kebutuhan sumber daya. Jika penggunaan air meningkat, pengelola dapat menjelaskan penyebabnya serta langkah penghematan yang dilakukan. Dengan demikian, pembahasan mengenai data center AI Indonesia dapat didasarkan pada data yang dapat dibandingkan, bukan sekadar perkiraan umum.

Listrik dan Air Harus Direncanakan Bersama

Selain air, pasokan listrik menjadi faktor utama dalam pengembangan pusat data. Server harus beroperasi sepanjang waktu, sedangkan sistem pendinginan dan peralatan pendukung juga membutuhkan energi. Karena itu, peningkatan kapasitas komputasi akan memengaruhi kebutuhan listrik fasilitas.

Hubungan antara listrik dan air juga perlu diperhatikan. Sebagian metode pendinginan dapat mengurangi penggunaan air dengan mengandalkan peralatan yang membutuhkan lebih banyak energi. Sebaliknya, sistem tertentu dapat menghemat energi dengan memanfaatkan penguapan air untuk membuang panas.

Mencari Keseimbangan antara Efisiensi Energi dan Air

Pengelola tidak cukup hanya mengejar konsumsi listrik terendah atau penggunaan air paling sedikit. Mereka perlu menilai dampak gabungan dari kedua sumber daya tersebut. Pilihan teknologi juga harus mempertimbangkan iklim, harga energi, ketersediaan air, dan kebutuhan operasional.

Di Indonesia, kondisi lingkungan antardaerah tidak selalu sama. Wilayah dengan suhu tinggi dan kelembapan berbeda dapat menghasilkan kebutuhan pendinginan yang berlainan. Karena itu, rancangan pusat data sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik lokasi, bukan hanya menyalin desain dari negara lain.

Pemanfaatan energi terbarukan juga dapat menjadi bagian dari strategi keberlanjutan. Namun, proyek energi harus memiliki pasokan yang cukup dan sesuai dengan pola operasi pusat data. Pengelola tetap perlu memastikan ketersediaan listrik yang stabil agar layanan digital tidak terganggu.

Efisiensi Menjadi Pertimbangan Investasi

Sistem pendinginan yang efisien dapat membantu menekan biaya operasional dalam jangka panjang. Penggunaan sensor, otomatisasi, dan analisis data dapat membantu pengelola menyesuaikan sistem berdasarkan beban server serta kondisi lingkungan. Pemantauan tersebut memungkinkan masalah terdeteksi sebelum memengaruhi kinerja fasilitas.

Meski demikian, investasi teknologi perlu dihitung berdasarkan kebutuhan nyata. Sistem yang lebih canggih dapat membutuhkan biaya awal dan keahlian pemeliharaan lebih tinggi. Pengembang harus membandingkan biaya tersebut dengan potensi penghematan air, energi, dan risiko operasional.

Efisiensi juga perlu diukur secara berkala setelah fasilitas beroperasi. Perubahan beban komputasi dapat memengaruhi performa pendinginan, sehingga hasil pengukuran awal belum tentu menggambarkan konsumsi pada tahun-tahun berikutnya. Evaluasi rutin membantu memastikan teknologi tetap sesuai dengan kebutuhan.

Seberapa Siap Indonesia Menghadapi Pertumbuhan Data Center AI?

Kesiapan Indonesia tidak dapat ditentukan hanya dari jumlah pusat data atau target kapasitas listrik. Infrastruktur air, kualitas jaringan distribusi, kemampuan pengolahan limbah, serta kondisi sumber daya di lokasi pembangunan juga perlu diperhitungkan. Informasi tersebut menentukan apakah ekspansi industri dapat berlangsung tanpa mengganggu kebutuhan dasar masyarakat.

Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam ekonomi digital regional. Namun, peluang tersebut membutuhkan perencanaan yang menghubungkan kebutuhan industri dengan daya dukung lingkungan. Pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan bahwa pertumbuhan komputasi tidak berjalan terpisah dari pengelolaan sumber daya.

Indikator yang Perlu Diperhatikan

Ada beberapa indikator yang dapat membantu menilai kesiapan infrastruktur. Pertama, ketersediaan sumber air yang dapat diandalkan sepanjang tahun. Kedua, kapasitas jaringan distribusi dan fasilitas pengolahan. Ketiga, penggunaan teknologi pendinginan yang sesuai dengan kondisi wilayah. Keempat, transparansi konsumsi air dan pelaksanaan pemantauan lingkungan.

Indikator lain mencakup kesiapan jaringan listrik, efisiensi fasilitas, dan kemampuan mengelola limbah. Semua aspek tersebut saling berkaitan. Kekurangan pada satu komponen dapat meningkatkan biaya atau menghambat operasi meskipun komponen lainnya telah tersedia.

Pemerintah juga perlu memperbarui perencanaan ketika kapasitas pusat data bertambah. Proyeksi kebutuhan air dan listrik harus mengikuti perkembangan teknologi serta rencana investasi yang benar-benar berjalan. Pendekatan berbasis data dapat membantu menghindari pembangunan yang tidak sejalan dengan kemampuan infrastruktur setempat.

Pertumbuhan AI Perlu Sejalan dengan Keamanan Air

Pusat data AI akan semakin penting ketika layanan digital berkembang dan kebutuhan komputasi meningkat. Namun, keberhasilan industri ini tidak cukup diukur dari kapasitas server atau besarnya investasi. Efisiensi energi, penggunaan air, dan dampak terhadap lingkungan juga perlu menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.

Bagi Indonesia, langkah pentingnya adalah memastikan setiap proyek memperhitungkan kondisi sumber daya sejak tahap perencanaan. Teknologi pendinginan yang sesuai, pemanfaatan air daur ulang, pemantauan konsumsi, dan koordinasi dengan penyedia infrastruktur dapat membantu mengurangi risiko. Pelaksanaan langkah-langkah tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi teknis dan aturan yang berlaku.

Pada akhirnya, kesiapan data center AI Indonesia bergantung pada kemampuan menyelaraskan pertumbuhan teknologi dengan ketersediaan air dan listrik. Pembangunan pusat data dapat mendukung ekonomi digital, tetapi tidak boleh mengabaikan kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Dengan perencanaan yang terukur serta transparansi penggunaan sumber daya, Indonesia dapat mengembangkan infrastruktur AI secara lebih bertanggung jawab.